Sejarah

One Stop English (OSE) berawal dari perbincangan dua sahabat yang sama- sama menggeluti dunia pengajaran dan merasa prihatin dengan perkembangan pengajaran bahasa yang dilaksanakan seperti mengajar materi pelajaran biasa, dalam hal ini mengingat, mengerjakan soal grammar dan lain lagi yang lebih melihat dari sisi form dari pada meaning. Menurut kami, yang kemudian menjadi dasar filosofi pendirian OSE, bahasa sangat erat berhubungan dengan budaya, dimana budaya lebih melihat dari sisi exposure dan pembiasaan untuk memperkenalkan ujaran /ekspresi sebagai suatu unit ‘Chunk’ dan tentu saja melihat menjadikan grammar disampaikan sesuai fungsi komunikatif dari pembelajaran.

Keadaan pengajaran Bahasa Inggris yang ada saat itu, mendorong kami untuk menciptakan suatu wadah bagi masyarakat agar mereka tidak merasa kesulitan dan salah kaprah melihat Bahasa Inggris sebagai bahasa yang terdiri dari 16 tenses yang harus dipelajari, dilatih dan bahkan dihafalkan. Masyarakat perlu tahu bahwa Bahasa Inggris bisa diakuisisi. Apakah akuisisi itu? Akuisisi adalah pemerolehan bahasa melalui praktik, melalui membaca buku cerita, melalui media visual dan paparan terhadap budaya di samping pelatihan tentang perumusan kalimat. Murid akan belajar secara natural suatu bahasa karena paparan, pengulangan, pengucapan kembali serta perasaaan gembira dan perasaan mampu. Kata terakhir ini merupakan kunci dari semua pembelajaran, karena sesungguhnya satu hal yang membuat pembelajaran berhasil adalah perasaan yakin dan mampu untuk menghadapi rintangan sehingga seseorang siap untuk melanjutkan ke segmen pembelajaran berikutnya.

Akhirnya lahirlah filososi One Stop English, yaitu ‘Joyful Learning’